Shanghai Jadi "Kota SpongeBob" — Viral di Medsos, Tapi Ada Dua Cerita yang Sangat Berbeda di Baliknya
Kalau kamu scroll media sosial beberapa hari terakhir dan menemukan foto-foto Shanghai dipenuhi patung ikan kartun bergaya SpongeBob SquarePants, reaksi wajarnya adalah: "hah, ini nyata?" Jawabannya: ya, sangat nyata. Tapi ada dua lapisan cerita di balik framing "Shanghai jadi kota SpongeBob" yang beredar — dan lapisan keduanya jauh lebih besar, lebih serius, dan lebih menarik dari sekadar pameran mall musim panas.
Cerita Pertama: SpongeBob yang Hadir Secara Harfiah
Mulai 18 Juni hingga 31 Agustus 2026, dua mall Kerry Centre di Shanghai menggelar pameran pop-up bertema "Bikini Bottom: Summer Slacking Town." Tapi kalau kamu mengira SpongeBob dan Patrick yang jadi bintang utamanya, Shanghai punya kejutan lain.
Yang jadi pusat perhatian di Jing'an Kerry Centre justru adalah karakter yang selama ini diabaikan semua orang: ikan-ikan latar belakang Bikini Bottom — karakter tanpa nama, tanpa dialog penting, yang selama puluhan tahun hanya numpang lewat di belakang layar. Lebih dari 50 patung ikan latar belakang itu tersebar di seluruh mall, dan setiap satu dari mereka terlihat seperti orang kantoran yang sudah menyerah dengan hidupnya.
Atraksi utamanya adalah ikan raksasa sepanjang 17 meter yang terbaring lemas di atas jembatan penyeberangan antar gedung mall — postur tubuhnya persis seperti orang yang baru selesai meeting marathon. Yang lain terlihat antri di halte bus, belanja dengan wajah kosong, atau menatap jauh ke kekosongan.
Di Pudong Kerry Parkside, versi yang lebih ramah keluarga hadir dengan istana pasir raksasa SpongeBob dan Patrick, area bermain interaktif, dan nuansa liburan pantai. Keduanya juga menyediakan pop-up toko eksklusif dengan lebih dari 200 item merchandise, termasuk koleksi pertama di China yang didedikasikan khusus untuk ikan-ikan latar belakang itu.
Mengapa ini viral? Karena konsep "mō yú" (摸鱼) — slang Mandarin yang secara harfiah berarti "menyentuh ikan" tapi artinya adalah "pura-pura kerja sambil diam-diam rebahan" — langsung beresonansi kuat dengan pekerja kantoran China yang merasa representasi hidupnya baru saja diwujudkan dalam bentuk patung fiberglass setinggi tiga meter di dalam mall.

Seperti yang dikomentari ribuan pengguna Weibo: setiap ikan itu terlihat persis seperti seseorang yang mereka kenal di tempat kerja. Atau seperti cermin.
Cerita Kedua: "Sponge City" — Shanghai yang Sesungguhnya Sedang Berubah Menjadi Spons
Di balik kegembiraan pop-up SpongeBob, ada ironi yang terlalu kebetulan untuk diabaikan: Shanghai secara harfiah sedang dalam proses resmi menjadi sebuah "Kota Spons" — dan ini bukan lelucon.
Sponge City (海绵城市, Hǎimián Chéngshì) adalah konsep perencanaan kota berbasis alam yang dicetuskan oleh arsitek lanskap Kongjian Yu dan resmi menjadi kebijakan nasional China sejak 2014. Ide dasarnya sederhana dan bisa dijelaskan dalam satu kalimat: daripada membuang air hujan secepat mungkin lewat pipa beton, bangun kota yang bisa menyerap, menyimpan, dan menggunakannya kembali seperti spons.
Namanya memang terdengar seperti nama episode SpongeBob. Tapi implikasinya sangat serius.
Kenapa Shanghai Butuh Ini
Shanghai bukan kota biasa — ini adalah metropolis dengan lebih dari 25 juta penduduk yang dibangun di atas delta Sungai Yangtze, salah satu lanskap paling rentan di bumi. Tanahnya secara alami terus tenggelam (fenomena yang disebut land subsidence), permukaan air laut terus naik akibat perubahan iklim, dan topan tropis yang melintas bisa menciptakan banjir besar yang menggabungkan semua faktor buruk sekaligus.
Penelitian terbaru dari University of East Anglia, Shanghai Normal University, dan University of Southampton memproyeksikan bahwa pada tahun 2100, area yang terendam banjir di Shanghai bisa meluas hingga 80% lebih besar dari kondisi saat ini — lebih dalam, lebih luas, dan lebih sering.
Sebelum program Sponge City hadir, data dari Kementerian Perumahan China mencatat bahwa antara 2008 dan 2010 saja, 62% dari 351 kota di China mengalami banjir perkotaan — dan 137 kota di antaranya kebanjiran lebih dari tiga kali dalam rentang dua tahun itu. Shanghai termasuk di dalamnya.
Penyebabnya bukan hanya hujan lebat. Urbanisasi masif telah mengubah permukaan tanah yang tadinya menyerap air menjadi beton dan aspal. Ketika hujan turun di atas kota yang "kedap air", air tidak punya tempat pergi selain meluap ke jalan.

Cara Kerjanya — Versi yang Bisa Dipahami Semua Orang
Bayangkan dua gelas es. Gelas pertama terbuat dari plastik keras — ketika kamu menuang air terlalu cepat, air langsung tumpah ke mana-mana. Gelas kedua dibungkus spons — air yang sama diserap perlahan, disimpan sementara, lalu dilepaskan secara terkontrol.
Infrastruktur kota konvensional adalah gelas pertama. Sponge City adalah gelas kedua.
Secara teknis, ini diwujudkan melalui:
- Trotoar permeable — aspal dan paving block yang memiliki pori-pori sehingga air bisa meresap ke tanah, bukan mengalir ke got
- Taman retensi (sponge parks) — ruang hijau yang dirancang dengan cekungan tersembunyi untuk menampung limpasan air hujan, seperti yang sudah dibangun di Shanghai Heping Park
- Atap hijau (green roofs) — atap bangunan yang ditanami vegetasi untuk menyerap air hujan sebelum mengalir ke bawah
- Wetland buatan — rawa-rawa kecil yang menyerap dan menyaring air sekaligus menjadi habitat satwa liar
- Bio-swales — saluran yang dilapisi tanaman untuk menyaring dan memperlambat aliran air
Ketika Changde, sebuah kota 1.200 km dari Shanghai, mengganti 15% permukaannya yang keras dengan bio-swales, tagihan rekayasa drainase barunya turun setengah. Solusi ini rata-rata 50% lebih hemat dibanding infrastruktur konvensional dan memberikan perlindungan terhadap badai 30 tahunan — tiga kali lebih kuat dari standar drainase konvensional.
Target Shanghai dan Kemajuannya
Shanghai adalah satu-satunya kota pilot Sponge City yang menargetkan perlindungan banjir 100 tahun — standar tertinggi dari seluruh kota pilot di China, jauh di atas rata-rata 50 tahun. Targetnya:
- 40% wilayah urban memenuhi standar Sponge City pada 2025
- 80% wilayah urban pada 2030
Otoritas air Shanghai sudah merilis masterplan komprehensif yang mencakup revitalisasi sungai, pembangunan pompa air modern, sistem monitoring digital real-time, dan integrasi prinsip Sponge City ke dalam semua izin konstruksi baru. Setiap proyek pengembangan lahan baru kini wajib menyertakan komponen Sponge City dalam desainnya.
Firma teknik global Arup yang membantu menyusun masterplan drainase Shanghai 2030 menyebutnya sebagai "rencana yang maju secara internasional, layak secara teknis, dan sehat secara ekonomi" — penilaian dari panel nasional sepuluh ahli yang meninjaunya pada 2019.
Yang Belum Selesai
Program Sponge City bukan tanpa kritik. Lebih dari separuh kota pilot mengalami banjir besar sejak program dimulai — termasuk Zhengzhou pada 2021, yang sudah menginvestasikan setara $8,3 miliar dalam infrastruktur Sponge City tapi tetap mengalami banjir katastrofik.
Ini bukan kegagalan total program, tapi pengingat bahwa Sponge City dirancang untuk mengelola hujan sehari-hari dan mengurangi frekuensi banjir biasa — bukan untuk menghentikan cuaca ekstrem yang sudah melampaui kapasitas infrastruktur apapun. Seperti yang direkomendasikan para peneliti: dibutuhkan "pertahanan berlapis", bukan satu solusi tunggal.
Kenapa Dua Cerita Ini Bertemu di Momen yang Sama
Kebetulan bahwa Shanghai viral sebagai "kota SpongeBob" di saat yang sama kota ini sedang mengeksekusi salah satu program infrastruktur berbasis alam terbesar di dunia adalah pengingat yang menarik: nama dan narasi yang tampak sepele bisa menyembunyikan realitas yang jauh lebih dalam.
"Sponge City" terdengar seperti lelucon. Tapi model ini sudah direplikasi di 30 lebih kota di China, mendapat perhatian dari World Economic Forum, diadopsi dalam berbagai bentuk di Copenhagen, Auckland, Rotterdam, dan Singapura, dan menjadi salah satu pendekatan utama yang direkomendasikan oleh IPCC untuk adaptasi perubahan iklim di kota-kota pesisir.
Dan ikan latar belakang SpongeBob yang terlihat lelah di dalam mall Shanghai? Mereka adalah pengingat yang berbeda tapi sama pentingnya: kadang karakter yang paling diabaikan — yang berdiri di latar belakang tanpa nama, hanya menjalani hari — adalah yang paling jujur menggambarkan kondisi kebanyakan orang.
Keduanya layak mendapat lebih banyak perhatian dari yang biasanya mereka dapat.

Pameran "Bikini Bottom: Summer Slacking Town" berlangsung di Shanghai Kerry Centre (Jing'an dan Pudong) dari 18 Juni hingga 31 Agustus 2026. Sumber data Sponge City: Shanghai Municipal Water Authority, World Economic Forum, University of East Anglia, Arup, Wikipedia, dan China Water Risk.




